Hanya Mengikuti Bukan Membuat Yang Baru

adsense 336x280
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

عليكم بسنتي وسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِييْنَ مِنْ بَعْدِي ، تَمَسَّكُوا بها، وعَضُّوا عليها بالنَّوَاجِذِ ،وإيَّاكُم ومُحْدَثَاتِ الأمورِ؛ فإِنَّ كلَّ بدعةٍ ضلالةٌ

“Wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin sepeninggalku. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”).

Di Indonesia khususnya, masyarakatnya itu sangat kreatif, bisa menciptakan berbagai lagu, bisa menciptakan musik yang unik, bisa melukis yang indah, bisa menciptakan adat dan tradisi, bisa menciptakan seni yang tinggi, bisa menciptakan peraturan sendiri, sebenarnya masyarakat Indonesia itu sangat kreatif, sampai – sampai perkara agama juga dibuat, seperti sholawat – sholawat, lagu religi, qosidah, marawis, rawi dan sejarah Walisongo.

Dari situlah dapat kita simpulkan betapa masyarakat Indonesia itu sangat pintar. Kemudian jika kita melirik sebentar mengenai hadits dan dalil yang melarang untuk membuat hal yang baru dalam agama dan kewajiban untuk mengikuti saja, kenapa mereka tidak pintar disini?

Mereka menolak mentah – mentah, walaupun ada sebagian yang menerimanya. Ketika lagu itu haram, ketika musik itu haram, ketika melukis butuh perincian tentang boleh dan tidaknya, ketika adat dan tradisi juga butuh perincian tentang boleh dan tidaknya, ketika seni juga butuh perincian, dan ketika peratuan – peraturan yang ada juga butuh kepada perincian, mereka tidak mau tau tentang itu semua.

Lantas dimana kepintarannya berada? Pintar hanya soal dunia atau bagaimana? Jika dikatakan hanya pintar soal dunia tapi ternyata mereka juga pintar membuat sholawat, pintar membuat lagu religi, pintar membuat qosidah, marawis, rawi dan sejarah Walisongo. Lalu bagaimana ini?

Jawabannya: Hendaklah kamu ikuti hadits diatas, jangan membuat – buat yang baru dalam agama ini.

Hanya mengikuti, jika kamu hanya mengikuti hadits diatas bukankah itu lebih mudah daripada harus membuat? Keterangannya sudah ada dalam kitab – kitab Para Ulama Salafi tinggal kita ikuti, adapun membuat yang namanya membuat sama sekali tidak ada contoh, karena kita membuatnya pertama kali, maka kemungkinan untuk jatuh kedalam kesalahannya itu besar.

Berpegang pada Sunnahku, maksudnya hadits – hadits yang Shahih atau minimal derajatnya Hasan, adapun hadits yang derajatnya Lemah tidak boleh dijadikan hadits.

Sunnah Khulafaur Rasyidin, maksudnya perbuatan Para Sahabat yang 4 orang, Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali keluar dari itu tidak boleh dijadikan agama.

Pegang dengan erat sambil digigit, maksudnya zaman sekarang ini agama yang benar cuma satu, yaitu agama Islam bermanhaj Salafi, keluar dari itu maka mereka telah tersesat. Karena Salafi hanya berpegang pada dalil AlQuran dan hadits – hadits yang Shahih dan Hasan, adapun hadits yang Lemah mereka tidak memakainya. Dan akibat dari kita berpegang erat itu kita harus berhadapan dengan mereka yang tidak suka, dengan beralasan tidak sesuai dengan adat dan tradisi, padahal didalam adat dan tradisi itu terdapat banyak hadits Lemah dan Palsu, bahkan ada juga yang mengambil dari kebudayaan orang Hindu, Budha, Nasrani dan Yahudi. Maka nabi Shallallahu’alaihi Wa Sallam memerintahkan kaum Salafi untuk menggigitnya dengan gigi Geraham, karena itulah gigi yang paling kuat.

Dan yang terakhir kita kaum Salafi diperintahkan untuk menjauhi bid’ah, seperti judul artikel ini : “……..Bukan Membuat Yang Baru” maksudnya itu adalah bid’ah. Jangan membuat bid’ah dalam perkara agama ini. Karena bid’ah itu sudah dipastikan sesat pada setiap bentuknya. Walaupun terlihat baik dalam pandangan kebanyakan manusia.

Seperti sholawat – sholawat yang ada sekarang ini, sama sekali tidak ada contohnya dari nabi Shallallahu’alaihi Wa Sallam, jika demikian lalu sholawat tersebut dibuat oleh siapa? Oleh orang yang tidak bertanggungjawab yang dengan kita membacanya sama sekali tidak mendapakan pahala. Bikinan orang bukan dari nabi Shallallahu’alaihi Wa Sallam.

Lagu religi juga tidak ada contohnya dari nabi Shallahu’alaihi Wa Sallam, maka menyanyikannya juga tidak berpahala.

Qasidah, marawis yang tidak pada tempatnya, rawi dan sejarah Walisongo juga tidak ada contoh dan hanya cerita dugaan belaka, tanpa sumber yang benar. Maka melakukannya juga tidak berpahala.

Jadi sebenarnya agama Islam itu mudah, kita para penganutnya hanya mengikuti bukan membuat – buat agama.

Nah ada subhat disini, yang para penganut bid’ah lontarkan, yaitu Speaker bid’ah, karena tidak ada contohnya dari nabi Shallahu’aliahi Wa Sallam.

Kita akui Speaker memang bid’ah tapi, ada tapi nya Speaker itu bukan termasuk agama, dia termasuk perkara dunia atau barang Elektronik, jadi Speaker hukumnya boleh. Yang menjadikan bid’ah itu sesat dan terlarang karena menyangkut perkara agama atau tata cara beragama yang diubah – ubah oleh orang tanpa melihat AlQuran dan hadits yang Shahih saja atau minimal derajatnya Hasan ditambah menurut pemahaman Ulama Salafi.

Ulama Salafi itu termasuk para Sahabat nabi Shallallahu’alaihi Wa Sallam, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’iin, sudah sampe situ, adapun keluar dari situ maka harus diperiksa dahulu, tidak bisa langsung diambil perkataannya sebagai agama. Jika perkataanya sesuai dengan AlQuran dan hadits yang Shahih atau Hasan maka kita ambil, kita pegang dengan erat dan gigit dengan gigi Geraham kita, jika tidak sesuai maka buang saja, jangan diambil.

Demikian semoga bermanfaat.
adsense 336x280

0 Response to "Hanya Mengikuti Bukan Membuat Yang Baru"

Posting Komentar