Kisah Nyata (Sebuah Renungan)

adsense 336x280
Ada sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh muslim.

عن عكرمة بن عمار حدثنى إياس بن سلمة بن الأكوع أن أباه حدثه أن رجلا أكل عند رسول الله -صلى الله عليه وسلم- بشماله فقال «كل بيمينك». قال لا أستطيع قال «لا استطعت». ما منعه إلا الكبر. قال فما رفعها إلى فيه

Dari Ikrimah bin ‘Ammar, (Ibrahim) Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ telah mengatakan bahwa ada sesuatu yang laki-laki makan dengan tangan kirinya dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘ Makanlah dengan tangan kananmu .’ Lalu dia mengatakan, ‘ Aku Tidak mampu .’ Maka beliau shallallahu’ alaihi wa sallam Berkata, ‘Engkau memang tidak akan mampu’. Tidak ada yang menghalanginya untuk menaati Nabi kecuali rasa sombong. Akhirnya, dia tidak bisa lagi mengangkat tangan kanannya ke mulut. (HR Muslim no 5387)

Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il At Taimiy -dalam penjelasannya tentang shohih Muslim- berkata, “Saya telah membaca di sebagian kisah (hikayat) mengenai sebagian ahli bid’ah saat mendengar hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ,

إذا استيقظ أحدكم من نومه فلا يغمس يده فى الإناء حتى يغسلها ثلاثا فإنه لا يدرى أين باتت يده

”Jika salah seorang di antara kalian bangun tidur, maka janganlah dia mencelupkan di dalam bejana sampai dia mencucinya tiga kali dahulu, karena dia tidak tahu di manakah tangannya semalam menginap.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam situasi mengejek, ahli bid’ah ini mengatakan, “Ya, saya tahu ke mana tangan saya bermalam di ranjang !!” Lalu tiba-tiba pada saat pagi dia biasa bangun sementara tangannya sudah berada didalam dubur sampai pergelangan tangan.

Pada Taimiy mengatakan, “Oleh karena itu haruslah seseorang berhati-hati untuk meremehkan sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kondisi-kondisi yang teguh. Terlihat apa yang terjadi pada orang ini karena akibat dari perbuatannya. “( Bustanul ‘Arifin li An Nawawi Dinukil dari Ta’zimus Sunnah , hal 19-20, Darul Qosim)

Dua buah kisah yang ane coba bawakan kepada antum semua, perihal ejekan orang terhadap Sunnah nabi Shallallahu’alaihi Wa Sallam.

Kisah Pertama

Dia seorang yang memiliki kedudukan dimata anak buahnya, seorang yang terhormat dan dihormati. Sehingga jika dia datang maka anak buahnya selalu merasa tidak enak jika duduk atau mengobrol dengannya. Jelas dia seorang yang berwibawa sedangkan kita hanya seorang pesuruh.

Beliau pernah berkata :

“Pak Budi (Bukan nama sebenarnya) kayaknya gak ngrokok, karna kalo misalnya ngrokok takut kebakaran jenggotnya.” Sambil tertawa.

Nah disini beliau punya kesalahan fatal, yaitu mengejek Sunnah berjenggot. Dengan ucapannya “……takut kebakaran”.

Yaa akhi, kalimat ini berbahaya jika antum katakan dengan sepenuh hati. Karena sama saja antum mengejek perintah dari Allah kepada nabi – Nya berupa perintah untuk berjenggot, sehingga seolah – olah beliau menolak perintah jenggot ini. Ini sangat berbahaya jangan sampai antum mengejek syariat yang sudah baku.

Kemudian apa yang terjadi pada beliau? Antum mau tau?

Rumahnya kebanjiran, Allah mengirim banjir masuk kedalam rumahnya dan itu terjadi esok harinya, maksudku sekarang beliau berkata dan besoknya banjir dirumahnya. Kira – kira apa yang tersisa dari hartanya yang terendam banjir? MasyaAllah, beliau minta bantuan atau dengan kata lain hartanya ludes terbawa air.

Kisah Kedua

Kisah inipun sama terjadi pada orang yang memliki kedudukan dimata anak buahnya. Namun beliau telah melakukan kesalahan yang fatal. Sebenarnya beliau hanya bercanda tapi yang beliau jadikan bahan candaan itu berhubungan dengan agama.

Seorang teman berkata padaku :

“Jun, ente gak ngrokok ya?”

Aku jawab :

“Gak pak”

Lalu tiba – tiba beliau berkata dengan nada bercanda :

“Haram buat dia pak, rokok haram”.

Nah yang menjadi permasalahan, beliau katakan haram berarti beliau sudah tau bahwa rokok itu haram hukumnya tapi beliau sendiri seorang perokok, jadi disini seolah – olah beliau ngeledek atau meremehkan perkara agama perihal rokok yang hukum sudah jelas.

Antum tau apa akibatnya? Mau tau?

Sekarang beliau punya penyakit Ambeyen (Wasir). MasyaAllah sungguh adzab Allah itu sangat pedih. Kami berlindung kepada Allah dari perbuatan tersebut.

Maka aku berpesan kepada antum sekalian, jangan mencela sekecil apapun tentang agama, apalagi perkara besar, jangan. Jika antum tidak mau kena akibatnya. Dan saranku jangan pernah mengejek seorang Salafi.

Salafi itu mempunyai sifat keramat, jangan coba – coba mengejek atau mencelanya.
adsense 336x280

0 Response to "Kisah Nyata (Sebuah Renungan)"

Posting Komentar