Surga Itu Bukan Pada Cepatnya Shalat

adsense 336x280
Sebuah hadits nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang memerintahkan kepada orang yang “ngebut” shalatnya untuk mengulang shalatnya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَرَدَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَيْهِ السَّلاَمَ فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » فَصَلَّى ، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » . ثَلاَثًا . فَقَالَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِى . قَالَ « إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا »

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk masjid, maka masuklah seseorang lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab salamnya. Beliau berkata, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tetap berkata yang sama seperti sebelumnya, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Sampai diulangi hingga tiga kali. Orang yang jelek shalatnya tersebut berkata, “Demi Allah yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarinya dan bersabda, “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397)

Seringkali kita melihat di masjid - masjid kaum muslimin ketika sedang melakukan shalat maka mereka mempercepat shalatnya dengan harapan bisa melakukan shalat lebih banyak jika dibandingkan mereka yang lambat shalatnya. Mereka beranggapan seperti dalam berkerja atau berusaha, yang mana ketika berada dalam sebuah perusahaan di sana ada Bos dan bawahan. Ketika Bos nya melihat maka yang mereka lakukan adalah mempercepat pekerjaannya agar terlihat bagus dan mendapatkan target yang ditentukan. Maka kedua cerita diatas sama sekali tidak bisa di samakan. Kenapa? Karena cerita pertama tentang ibadah shalat adapun yang kedua tentang pekerjaan dunia. Ini berbeda yaa akhi tidak ada alasan untuk menyamakannya.

Pernah atau bahkan sering di masjid tempat kita shalat, menemukan imam yang memimpin shalat bergerak dengan sangat cepat. Hampir - hampir tidak ada jeda waktu antara satu gerakan dengan gerakan yang lainnya. Ini musibah dalam beribadah yang seharusnya paling kita takutkan. Karena jika kita berbuat demikian maka di anggap tidak melakukan shalat, rugi dan sangat rugi. Sudah kita capek mengerjakannya, pegal dan berkeringat namun tidak berpahala bahkan berdosa.

Dan shalat yang seperti itu membuat jama'ah malas ke masjid. Ini sisi lain akibat yang ditimbulkan dari shalat yang tidak tenang alias sangat cepat sehingga membuat orang tertinggal oleh jama'ah. Seharusnya mendapatkan takbiratul ihram pertama, tapi karena shalatnya yang cepat jadi ketinggalan, jadi makmum masbuk. Akhirnya jama'ah pun mulai malas jika selalu tertinggal dalam jama'ah. Dan itu yang terjadi sekarang shalat tanpa jeda sama sekali, setelah adzan berkumandang tidak lama langsung iqomah mengerjakan shalat. Ane tidak tau apa yang di bacanya sampai bisa cepat seperti itu.

Seandainya dia mau belajar tentang islam yang benar. Bagaimana melakukan shalat yang benar? Apa saja rukun - rukunnya? Apa saja syarat - syaratnya? Bagaimana cara yang benar? Apa syarat agar shalat di terima? Sehingga hal - hal seperti di atas tidak terjadi lagi. Kasihan sudah capek - capek shalat tapi gak ada pahalanya bahkan berdosa.

Semua ini sudah di ajarkan oleh nabi Shallahu'alaihi Wa Sallam lewat hadits beliau di atas. Ketika seseorang shalat dengan cepatnya, dia merasa sudah shalat padahal dia belum shalat. Ini kan rugi jadinya. Jika seandainya dia mau benar - benar sudah shalat maka lakukanlah thuma’ninah. "Alon - alon asal klakon", begitu lah yang orang jawa bilang.

Demi Allah jika demikan adanya maka Surga itu di dapat bukan dari cepatnya shalat seseorang, bukan dari banyaknya shalat seseorang karena kecepatannya melakukan shalat. Tapi Surga di dapat jika mengikuti peraturan dan cara mainnya, yaitu dengan melihat, membaca dan memahami hadits di atas.

Demikan semoga bermanfaat.
adsense 336x280

0 Response to "Surga Itu Bukan Pada Cepatnya Shalat"

Posting Komentar