Biarlah Allah yang Menilai

adsense 336x280 Nabi Shallallahu'alaihi Wa Sallam bersabda :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Al Birr Wash Shilah Wal Adab, bab Tahrim Dzulmin Muslim Wa Khadzlihi Wa Ihtiqarihi Wa Damihi Wa ‘Irdhihi Wa Malihi, VIII/11, atau no. 2564 (33). Ibnu Majah dalam kitab Az Zuhud, bab Al Qana’ah, no. 4143. Imam Ahmad dalam Musnad-nya II/ 539. Baihaqi dalam kitab Al Asma’ Wa Shifat, II/ 233-234, bab Ma Ja’a Fin Nadhar. Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’, IV/103 no. 4906. Derajat hadits ini Shahih)

Pernah suatu ketika ane mendengar dari seorang Khatib pada shalat Jum'at, beliau berkata : "Biarlah Allah yang Menilai". Dari situlah ane terinspirasi untuk membuat artikel mengenai apa yang beliau ucapkan tersebut.

Ketika seseorang berkata "Biarlah Allah yang Menilai", ini menunjukan kepada kita akan sikap Ketawakkalan seseorang akan hasil usahanya, seperti bekerja dan beribadah. Maka dia seakan - akan menyandarkan segala sesuatunya hanya kepada Allah semata, sehingga rasa yang besar ini membawanya kepada sikap tenang di setiap kondisi yang dia hadapinya.

Karena sesungguhnya perkataan "Biarlah Allah yang Menilai" akan menimbulkan dua akibat yang akan dia peroleh, yaitu menghilangkan rasa Ujub dan membuat pelakunya Istiqomah.

Berikut ini uraian yang bisa ane jelaskan :


  • Pertama, menghilangkan rasa Ujub. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Ujub merupakan sifat tercela dan penyakit hati yang dapat menghapus amalan. Karena seolah - olah dia beramal dan merasa amalanya di terima sepenuhnya tanpa menyandarkan hasilnya kepada Allah Subhana Wa Ta'aala. Ini kesombongan karena dia mendahului Allah dengan sebab persangkaannya tersebut, padahal belum tentu amalannya di terima dan mendapatkan pahala. Segala sesuatu yang ghaib sudah semestinya di kembalikan kepada Pemiliknya, yaitu Allah Subhana Wa Ta'aala. Maka ketika dia berkata "Biarlah Allah yang Menilai", menunjukkan sikap tawakkal dan berserah diri tentang amalan yang baru saja dia lakukan dan tentu saja ini menghilangkan sifat Ujub yang ada pada dirinya.
  • Kedua, membuat pelakunya bersikap Istiqomah. Maksudnya adalah dia sudah beramal tapi dia merasa kalau - kalau amalannya tidak sempurna atau tidak di terima sehingga sikap seperti ini membawanya kepada sikap Istiqomah dengan ucapannya "Biarlah Allah yang Menilai". Seolah - olah dia tidak puas akan hasil yang sudah dia kerjakan baik dalam beribadah maupun dalam bekerja.
Inilah akibat yang kira - kira bisa kita petik dari sebuah kalimat "Biarlah Allah yang Menilai". Karena Allah hanya melihat seseorang pada dua hal, yaitu amalannya baik sebelum maupun sesudahnya dan hatinya yang manusia itu cenderung merasa puas dan bangga dengan amalnya.

Semoga Allah memberi kepada kita Taufiq untuk menjauhi sifat Ujub dan tidak Istiqomah. Demikian semoga bermanfaat.
adsense 336x280

0 Response to "Biarlah Allah yang Menilai"

Posting Komentar